Begawai Nusantara

“Begawai Nusantara?! Horja! Horja! Horja!”

 

*******

 

Yel-yel tersebut lahir begitu saja pada hari di mana Begawai Nusantara lahir. Begawai Nusantara-jaringan festival warga lahir di Yogyakarta pada tanggal 19 Maret 2019. Nama ‘Begawai Nusantara’ itu disepakati oleh sekitar 40 orang yang bertemu di Grha Suara Muhammadiyah Yogyakarta, dalam rangkaian acara Kick Off Meeting Visiting Our Own Home (Berkunjung Ke Rumah Sendiri), sebuah program yang diselenggarakan oleh Yayasan Umar Kayam, dengan dukungan Ford Foundation.

 

Mereka yang bersua dalam pertemuan itu adalah perwakilan dari festival-festival yang tersebar di Pulau Sumatera, Jawa, Kalimantan dan Madura. Dalam pertemuan ini, semua festival bersepakat untuk membangun suatu jaringan bersama, yang akan mempertemukan secara terencana semua festival, untuk berbagi pengetahuan, pengalaman, serta yang tak kalah penting, berbagi jaringan, di luar jaringan antar festival ini, baik berupa lembaga atau pun perorangan.

 

Kata ‘begawai’ diambil dari kata yang digunakan banyak etnik Melayu, terutama di Jawa, Sumatera, dan Kalimantan, untuk menyebut kegiatan budaya mereka, baik itu perhelatan, maupun upacara. Orang Sunda dan Jawa, memahami kata ‘gawe’ sebagai padanan kata ‘bekerja.’ Orang Melayu di pesisir timur Sumatera, begitu pula di pesisir barat dan selatan Kalimantan, menyebut kata ‘gawai’ untuk menyebut kegiatan yang juga disebut kenduri, helat, maupun upacara.

 

Dengan kata itu, para peserta pertemuan, yang kemudian menjadi anggota Begawai Nusantara, merasa bahwa hakikat kegiatan mereka semua jadi terwakili. Berbagai kegiatan, yang secara lahiriah berbentuk perayaan atau yang kini lebih populer dinamakan ‘festival’, namun pada batinnya adalah bekerja untuk kebudayaan, untuk mendorong perubahan sikap dan pemaknaan. Dengan singkat, bekerja untuk kemajuan masyarakat Nusantara.

 

Meski baru resmi diberi nama pada tahun 2019, namun embrio jaringan festival yang kemudian bernama Begawai Nusantara ini, sebenarnya sudah terbentuk setidaknya sejak 3 tahun sebelumnya, di tahun 2016. Bermula dari kebiasaan saling mengunjungi antar festival, sebagai bentuk dukungan moral kepada sesama pekerja festival. Suatu tradisi saling berkunjung, yang juga dilandasi oleh semangat kemandirian, karena mereka yang berkunjung, selalu bersedia menabung, atau mencari ‘jalan’ sendiri, agar bisa mengunjungi ‘saudara seperjuangan’ di tempat lain.

 

Meski datang secara ‘mandiri,’ namun mereka yang datang tidak lantas menjadi ‘tamu’ di festival yang mereka kunjungi. Begitu datang di lokasi, mereka yang datang bersikap sebagai ‘tuan rumah’ yang siap membantu bagian mana pun dari pelaksanaan festival, yang dipandang perlu untuk dibantu. Persiapan artistik, penyiapan kebutuhan logistik, dan pengelolaan pengunjung, adalah beberapa bagian yang kerap kali dibantu. Tidak jarang, mereka juga membantu publikasi, atau menuliskan esai kritis untuk perbaikan penyelenggaraan festival.

 

Kecenderungan untuk saling mendukung dengan cara saling mengunjungi inilah yang boleh dinamakan sebagai modal sosial dari jaringan ini, yang kemudian mengkristal menjadi jaringan. Dengan demikian, Begawai Nusantara sejak awal telah mengibarkan empat pokok pikiran penting, yang kemudian menjadi embrio ‘ideologis’ Jaringan, yakni: (1) kemandirian; (2) ketersambungan; (3) voluntarisme; dan (4) gotong royong.

 

Begawai Nusantara adalah jaringan festival-festival yang menyebut dirinya sebagai festival warga. Apa yang dipahami sebagai festival warga tidaklah tunggal dalam segi bentuk, namun sama dalam hal semangat, yakni festival-festival budaya yang diupayakan, dipelopori, dan dihidupi oleh warga suatu kawasan, dengan dukungan pihak-pihak lain.

 

Semangat mempelopori, mengupayakan, dan menghidupkan festival sendiri oleh warga ini, berangkat dari segenap pembelajaran. Di Indonesia, sempat tumbuh berbagai festival, bak jamur di musim hujan. Namun satu per satu festival itu kemudian berguguran. Pasalnya, masing-masing bergantung pada dukungan, terutama pendanaan, pihak lain. Selain itu, keberlangsungan festival seringkali terancam pula oleh kelemahan sistem pengelolaan. Kalau pun dua hal ini dapat dilampaui, ancaman ketiga datang, yakni masalah konflik kepemilikan.

 

Tiga isu ini, sejak awal sudah seringkali jadi perbincangan.

 

Dalam pertemuan awal yang lebih mirip ‘ruang curhat,’ masing-masing mengemukakan kendala-kendala yang dihadapi, cara-cara yang dicoba untuk mengatasinya, beserta hal-hal yang dipandang telah berhasil dicapai. Kendati demikian, beberapa hal penting telah dicatatkan, yakni: riwayat masing-masing festival; strategi pendanaan masing-masing; dan mekanisme penyelenggaraan, yang meliputi pembangunan kepanitiaan, penyusunan program acara, serta strategi promosi dan publikasi.

Pada bulan Agustus di tahun yang sama, sebagian besar peserta bertemu pula di Layang Lakbok Art and Culture Festival di Ciamis. Kali ini, tak ada lokakarya, hanya semacam penjajakan tentang kemungkinan-kemungkinan kerjasama yang dapat dilakukan dalam jaringan, yang pada waktu itu sudah dapat dikatakan mulai mengkristal.

 

Koalisi Seni Indonesia lagi-lagi turut ambil bagian dalam pertemuan di Layang Lakbok Art and Culture Festival ini, dengan mengirimkan salah seorang pengurus sekretariatnya sebagai semacam pengamat. Rupa-rupanya kemudian, Koalisi Seni Indonesia yang waktu itu tengah mempersiapkan sebuah buku, bertajuk Dampak Seni (2019), melihat apa yang dikerjakan oleh anggota jaringan ini sebagai salah satu kasus atau praktik yang baik.

 

Dari berbagai pertemuan itu, festival-festival yang saling bertemu menyadari beberapa hal. Pertama, bahwa pengetahuan yang menjadi modal intelektual yang digunakan dalam pelaksanaan masing-masing festival, adalah suatu kekayaan yang dapat disusun bersama, dan barangkali akan menjadi sumbangan berharga, baik bagi praktik serupa di tempat lain dan di kemudian hari, maupun bagi medan ilmu pengetahuan. Kedua, bahwa upaya saling mendukung, harus dilanjutkan dengan program-program bersama, yang membutuhkan sumber daya yang lebih besar, sekaligus akan menjadi modal kultural yang kuat.

 

Beberapa hal terkait penyelenggaraan festival yang senantiasa menarik untuk dibicarakan dalam jaringan, dan ditemukan strateginya adalah: pengkurasian atau pemrograman; pendanaan; dan akhirnya kepemilikan. Di luar itu, tentu saja juga menarik untuk membicarakan tentang pelestarian dan pembinaan budaya, kreativitas seni, dan dampak ekonomi dan pariwisata yang mungkin dapat dimunculkan dari pelaksanaan festival.

 

Tapi apa yang disampaikan Buya Syafii Maarif dalam pertemuan Kick Off Meeting, juga menjadi hal yang diperhatikan oleh Begawai Nusantara, yakni: Indeks kebahagiaan warga. Begitu pun hal lain yang disinggung Buya Syafii Maarif, yakni tentang ketahanan budaya, yang beliau katakan akan menjadi tanggung jawab para pekerja seni dan budaya. Terutama, manakala politik, yang sejatinya ditujukan untuk berbuat kebajikan, berubah menjadi politik kekuasaan yang dangkal.

 

Berdasarkan perjalanan selama kurang lebih 3 tahun itulah sesungguhnya, Begawai Nusantara kemudian menyusun identitasnya, sebagai: suatu jaringan pengetahuan dan pengalaman atas pengelolaan festival warga di Nusantara. Sebuah identitas yang tentunya akan terus berubah, seiring perkembangan festival dari masing-masing anggota, juga oleh terus bertambahnya anggota baru.

 

Begawai Nusantara percaya bahwa setiap pengetahuan akan memiliki otoritasnya sendiri. Begawai Nusantara bermaksud mengambil peran untuk membangun otoritas pengetahuan bersama, perihal festival warga. Suatu bentuk pengetahuan yang, sebagaimana disinggung oleh Kurniawan Adi Saputro dalam Expert Meeting, tak ada dalam kamus Ilmu Manajemen mana pun. Karena menurut Kurniawan Adi Saputro lebih lanjut, dalam buku-buku manajemen hanya dikenal dua bentuk, yakni manajemen publik/negera dan manajemen sektor privat/swasta. Sementara festival-festival dalam Begawai Nusantara, mencampurkan kedua jenis tata kelola itu, atau bukan tidak mungkin, tidak menerapkan kedua-duanya.

 

Menatap ke masa depan, Begawai Nusantara bercita-cita membentuk sistem magang dan saling mengunjungi yang lebih luas, yang mendekati apa yang dibayangkan sebagai ‘Nusantara,’ yakni Asia Tenggara. Kenyataannya, sistem festival budaya yang mendasarkan eksistensinya pada keterlibatan dan kepemilikan warga serupa festival-festival dalam Begawai Nusantara, diyakini juga tumbuh dan berkembang luas di wilayah-wilayah lain.

 

Sementara itu, cita-cita sederhana kini mulai pula tumbuh dalam jaringan Begawai Nusantara, yakni mendorong keterlibatan semakin banyak pekerja seni dan budaya pada apa yang kini kami namakan sebagai ‘seni-seni warga’. Suatu bentuk estetika, atau katakanlah suatu gerakan sipil, yang menjadikan perhelatan budaya sebagai modus bekerjanya, dalam rangka menebarkan nilai-nilai kemanusiaan yang universal, yang menghormati perbedaan dan keragaman.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *