Berkunjung ke Rumah Sendiri

“Indonesia adalah rumah bersama. Keragaman bersemayan di dalamnya”

 

******

 

Sejak tahun 2016, Yayasan Umar Kayam berkolaborasi dengan beberapa lembaga, antara lain Masyarakat Peduli Media, Bintang Kidul, Teraseni, dan Joglo Abang, serta anak-anak muda pekerja seni budaya dari beberapa desa. Kolaborasi kami bertujuan untuk mengupayakan perubahan-perubahan kecil, terkait kreativitas seni, pendidikan budaya, tata ruang desa, serta pengembangan pariwisata dan usaha kreatif di desa.

 

Gunung Suku, Belibak, dan Lakbok, adalah desa-desa awal yang menjadi laboratorium, tempat perubahan-perubahan kecil itu dicoba dan diupayakan. Dari pengalaman bekerja di desa-desa itu, kami kemudian percaya, bahwa ibarat rumah, Indonesia ditinggali oleh berbagai keragaman. Beribu suku, bahasa, dan agama berumah di Indonesia. Bertahun-tahun keragaman itu dirawat bersama, dan menjadi bagian terpenting dari keindonesiaan kita.

 

Namun ironisnya, justru dari pengalaman bekerja di desa-desa itu pula, kami dapati bahwa dewasa ini rumah bersama itu berada dalam ancaman, ketika muncul gelombang eksklusivisme dan ekstrimisme. Masyarakat Indonesia ternyata adalah masyarakat yang sangat sosio-sentris di mana agama dan budaya dapat mempunyai pengaruh yang sangat besar, baik untuk mempersatukan, maupun untuk memecah belah.

 

Celakanya, eksklusivisme dan ekstrimisme justru mendorong sifat sosio-sentris itu menjadi kekuatan yang cenderung ke arah negatif. Itu berarti, kecenderungan intoleransi terus bertumbuh, sementara penggunaan sentimen ‘perbedaan’ dalam politik terus pula memupuknya. Maka, Indonesia tengah menghadapi ancaman besar, baik bagi demokrasinya yang baru saja pulih, maupun bagi rasa kebangsaannya yang telah dibina ratusan tahun itu sendiri.

 

Ancaman atas keindonesiaan yang majemuk itu kini mulai semakin nyata, antara lain termanifestasi dalam berbagai bentuk peraturan daerah yang tampak jelas dipengaruhi oleh kecenderungan eksklusivisme dan ekstrimisme. Berbagai regulasi lokal itu hampir selalu berimplikasi pada diskriminasi terhadap kebudayaan setempat tertentu, yang dikategorisasikan tidak sesuai dengan nilai agama tertentu.

 

Di sisi lain, politik identitas mengiringi otonomi daerah dan berdampak serius pula terhadap kehidupan budaya Indonesia yang majemuk. Politik identitas ini menggiring pada kebanggaan daerah yang berlebihan, dengan meneguhkan identitas kedaerahan tanpa memandang dirinya sebagai bagian dari identitas keindonesiaan yang lebih besar. Kesenian daerah, misalnya, semakin tergelincir untuk hanya menjadi identitas lokal semata, sementara hakikatnya sebagai bagian dari identitas sebagai satu bangsa yang beragam mulai terlupakan.

 

Politik identitas kedaerahan itu kemudian dapat dibayangkan akan berujung pada semangat anti dialog dengan budaya lain. Banyak kelompok mulai memiliki pandangan tunggal, bahwa identitas budaya daerahnya adalah asli dibangun dari dan oleh daerah itu sendiri, tanpa sumbangan dari pertemuan dengan berbagai budaya lain. Berkelindan dengan populisme berbasis agama, penguatan identitas kedaerahan yang eksklusif ini jelas adalah ancaman bagi pluralisme atau keragaman Indonesia.

Menanggapi ancaman itu, kesenian kami pahami sebagai sebuah cara, ketimbang tujuan. Keberagaman dan perbedaan sejatinya adalah pengalaman tubuh. Manusia mengenali perbedaan-perbedaan dengan cara mengalami adanya budaya lain dengan indranya. Salah satu kata kuncinya kemudian adalah: perjumpaan. Keragaman adalah nilai yang terinternalisasi, mana kala tubuh berjumpa dengan yang lain, yang berbeda.

 

Karena itu, kami memandang kesenian memiliki kekuatan dan peluang untuk menjadi sarana bagi “mengalami Indonesia yang beragam” itu. Melalui kesenian indra manusia diajak untuk bekerja: merasa, mendengar, dan meraba. Ketika tubuh-tubuh merasakan yang berbeda, di situlah dialog dan interaksi terjadi. Dialog dan interaksi ini kemudian akan berujung pada pencarian kesepahaman, menemukan irisan, alih-alih pertentangan, apalagi perseteruan.

 

Dengan kata lain, ketika tubuh merasakan yang berbeda ia bisa mendorong kesadaran baru, dan seterusnya menjadi daya untuk menelurkan perubahan. Sejarah kebudayaan Indonesia telah menunjukkan dengan gamblang bagaimana kesenian menjadi tempat pertukaran dan pengalaman perbedaan. Bentuk-bentuk kesenian yang terhampar di setiap sudut Nusantara, hampir semuanya merupakan perwujudan dari keragaman.

 

Bentuk-bentuk seni yang ada di berbagai daerah di Indonesia pada hakikatnya adalah buah dari pertemuan dan interaksi budaya-budaya yang berbeda. Secara sederhana kemudian bisa dikatakan bahwa berkesenian adalah proses dari ‘mengalami yang berbeda’. Perwujudan itu berlangsung dalam proses sosial dan budaya selama puluhan atau bahkan ratusan tahun dengan berbagai dinamikanya.

 

Bahkan praktik keagamaan di Indonesia juga tak bisa dilepaskan dari proses kesenian. Berbagai bentuk kesenian di Indonesia adalah wujud dari perjumpaan agama dengan budaya lokal. Salah satu faktor penting mengapa masyarakat Indonesia yang sangat religius bisa mengembangkan ekspresi keagamaan yang toleran adalah karena kesenian.

 

Berangkat dari pemaknaan itu, kami merasa bahwa kekuatan seni yang telah dibuktikan selama ini perlu kembali diafirmasi, sekaligus didorong lebih maju. Terutama, untuk menjawab tantangan-tantangan baru. Kemajuan teknologi dan perkembangan konteks sosial politik harus disikapi dengan ide-ide dan praktik yang lebih segar.

 

Kami percaya, bahwa melalui pelaksanaan festival, tubuh-tubuh mengalami ‘kebudayaan yang lain’ dan dengannya pengalaman dan pemahaman tentang keragaman akan lebih terafirmasi. Karenanya, festival seni yang memiliki akar sosial dan kebudayaan di berbagai tempat bisa menjadi laboratorium untuk membicarakan keragaman atau pluralisme dalam pengertian yang lebih menubuh.

 

Bisa dikatakan kemudian bahwa festival seni adalah bentuk lain dari gerakan pluralisme, karena pada ruang inilah bisa diwadahi sikap saling memahami, menghormati, memberi ruang akses dan ekspresi, serta membangun apresiasi antar kelompok kebudayaan yang berbeda. Terlebih jika suatu festival seni bisa mendorong proses agar kelompok kebudayaan yang terpinggirkan mendapatkan ruang akses dan ruang ekspresi yang setara.

 

Jika selama ini proses sosial untuk saling meminjam antar budaya bisa membuahkan bentuk-bentuk kesenian baru, ruang tersebut akan semakin terbuka manakala ada kesempatan bagi para pelaku untuk saling “berkunjung.” Saling berkunjung, menjadi ruang untuk mengenali tempat dan manusia yang berbeda sekaligus membangun kerjasama.

 

Singkatnya, dalam hemat kami penyelenggaraan berbagai festival seni di banyak daerah membuka peluang interaksi dan dialog antar budaya, daripada sekadar dipahami sebagai bentuk komodifikasi nilai-nilai semata. Ketika Indonesia diandaikan sebagai rumah bersama, maka mengunjungi dan bekerja dengan kebudayaan lain di suatu daerah melalui festival, sejatinya bagi kami adalah serupa ‘kita sedang mengunjungi rumah sendiri’.

 

Berdasarkan perenungan semacam itulah, maka lahirlah program Berkunjung ke Rumah Sendiri, dengan bentuk kegiatan antara lain: lokakarya tentang festival warga; residensi di festival-festival warga; presentasi karya; amplifikasi isu bersama melalui media sosial dan akhirnya pendokumentasian pengetahuan melalui publikasi. Rangkaian kegiatan tersebut ditujukan untuk memberi pengalaman ketubuhan tentang toleransi dan inklusivitas.

 

Lebih lanjut, Berkunjung ke Rumah Sendiri ditujukan untuk menciptakan jejaring bergetar di tingkat komunitas melalui festival. Berdasarkan itu dibangun teorisasi atas praktik-praktik baik tentang mengalami kebudayaan lain dalam pemahaman ‘Indonesia sebagai rumah bersama’; dan didorong pula proses produksi pengetahuan tentang toleransi dan inklusivitas.

 

Dengan tercapainya tujuan-tujuan itu, program Berkunjung ke Rumah Sendiri diharapkan dapat berdampak pada penguatan praktik-praktik toleransi dan inklusivitas melalui media kesenian, dalam hal ini berwujud festival berbasis masyarakat di Indonesia. Dengan itu, diharapkan pula akan terjadi penguatan jaringan festival berbasis masyarakat di Indonesia.

 

Lebih jauh, melalui program Berkunjung ke Rumah Sendiri, diharapkan akan dapat berlangsung teorisasi atas praktik-praktik toleransi dan inklusivitas melalui media kesenian dalam ruang festival berbasis masyarakat. Sehingga dapat diupayakan pendidikan publik tentang pluralisme yang lebih luas, yang memiliki akar sosial-budaya Keindonesiaan.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *