Perempuan Penakluk Api

Angin bertiup agak kencang siang itu (1/1/2020), kabut asap menyelimuti Kampung Dayun, Kabupaten Siak, Riau. Tim Manggala Agni, bersama Masyarakat Peduli Api, dibantu Badan Penangulangan Bencana Daerah (BPBD), TNI dan Polri berjibaku memadamkan api yang menjalar di lahan gabut dan semak belukar seluas kurang lebih 1 hektar di Kecamatan Dayun, Kabupaten Siak, Riau. Menjelang malam, tim pemadaman baru berhasil melakukan pendinginan lahan yang terbakar, agar api tidak menjalar dan meluas.

Salah seorang diantara tim pemadam kebakaran hutan itu adalah perempuan. Gustianingsih namanya. Keluarga dan teman sejawat memanggilnya Neneng, seorang perempuan berumur 35 tahun, ia bergabung dengan Manggala Agni sejak tahun 2005. Pekerjaan utamanya adalah staff kontrak bidang administrasi pada Daops Manggala Agni Sumatera VI, Kabupaten Siak, Riau. Manggala Agni adalah unit khusus pemadam kebakaran hutan dan lahan yang dibentuk oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) sejak tahun 2003.

“Tugas saya sebenarnya di bagian administrasi, tetapi kadang juga dilibatkan dalam kegiatan patroli untuk pencegahan kebakaran maupun pemadaman” Ujar Neneng, ibu tiga anak itu.

Keterlibatan Neneng dalam operasi penanganan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) bukan kali itu saja. Saat kebakaran hebat pada tahun 2019 lalu yang terjadi di Desa Sri Gemilang, Kecamatan Koto Gasib, Kabupaten Siak, Riau, Neneng ikut menjadi anggota Tim Manggala Agni Kabupaten Siak. Luas hutan dan lahan yang terbakar waktu itu mencapai lebih dari 30 hektar, Tim pemadam kebakaran hutan dan lahan membutuhkan waktu lebih dari sembilan hari untuk menaklukkan api dengan penyekatan dan pendinginan lahan.

Menggunakan baju lapangan, bersepatu boot khusus pemadam kebakaran, masker, dan topi lapangan, Neneng ikut memanggul selang air di lokasi kebakaran hutan dan lahan. Tampak keringat dan peluh mengucur pada wajahnya. Lokasi yang sulit dijangkau, hawa panas api dan asap yang pekat tidak menyurutkan langkah Neneng dan tim Manggala Agni dalam upaya melakukan pemadaman. Menuju titik api, Neneng dan tim harus berjalan kaki menembus semak belukar dan melewati lahan gambut dengan hati-hati, karena bisa terperosok pada gambut yang lembek dengan ketebalan mencapai lebih dari satu meter. Kadang mereka harus berputar mencari jalan masuk, menuju tiik api atau daerah kebakaran. Tidak semua lokasi kebakaran bisa dilalui kendaraan, roda dua sekalipun. “Kami harus jalan kaki sangat jauh, kaki menjadi lecet sudah biasa” Ujarnya lirih.

Sambil membawa selang air pemadam, Tim Pemadam Karhutla juga harus mencari dan menyiapkan sumber air untuk memadamkan api. “Kadang, sudah sudah pergi jauh ke dalam (lokasi kebakaran), sumber air tidak tersedia. Sehingga kami harus mencari sumber air untuk membantu pemadaman dan pendinginan lahan” Cerita Neneng pada Peneliti dari Yayasan Umar Kayam.

Neneng dan Tim Manggala Agni tidak sendirian dalam penanganan kebakaran hutan dan lahan. Tim dari BPBD, TNI/Polri dan Relawan dari Masyarakat Peduli Api ikut terlibat dan bahu membahu dalam pemadaman dan pendinginan lahan. Tak jarang mereka harus bermalam di sekitar lokasi kebakaran. Mereka acap kali harus rela meninggalkan keluarga dan kerabat untuk melakukan penanganan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla).

Menjadi bagian dari Tim Manggala Agni di Daop VI, Siak, Riau, bagi Neneng adalah hal yang membanggakan. Sekalipun ia terkadang harus meninggalkan keluarga, dan bekerja di lapangan untuk melakukan pencegahan maupun penanganan karhutla.

“Saya pernah ikut pemadaman di Dayun dan Sri Gemilang, Kabupaten Siak, semata karena panggilan hati saja, dan ketika di lapangan kami merasakah kepuasan tersendiri bila berhasil penyekatan (pengurangan kebakaran), sehingga bisa mengurangi kabut asap yang ditimbulkan akibat kebakaran itu” Kata Neneng dengan bangga.

 

Pencegahan Kebakaran Hutan dan Lahan

Sebenarnya Tim Manggala Agni tidak hanya melakukan upaya pemadaman kekabaran hutan dan lahan, mereka juga bertugas melakukan upaya pencegahan pemadaman kebakaran hutan dan lahan dengan berbagai cara sosialisasi dan pendekatan terhadap masyarakat.

Dalam ceritanya pada Peneliti dari Yayasan Umar Kayam, Neneng mengungkapkan bahwa dirinya bersama Tim Manggala Agni sering melakukan patroli, melakukan sosialisai dengan cara menemui berbagai kelompok seperti masyarakat di desa-desa maupun kelompok masyarakat adat.

“Kami memberikan sosialiasi kepada masyarakat tentang dampak dan bahaya karhutla, bahwa itu sangat berbahaya buat lingkungan, Kami berusaha memberikan pengertian pada mereka yang masih membakar, bahwa kalau masih membakar akan sangat berbahaya bagi masa depan, generasi selanjutnya.” Neneng menjelaskan dengan penuh semangat.

Sementara itu menurut Ferdian Krisnanto, selaku Kepala Balai Pengendalian Perubahan Iklim dan Kebakaran Hutan dan Lahan (BPPIKHL) wilayah Sumatera dalam wawancara yang terpisah, menyebutkan bahwa KLHK menggunakan paradigma baru dengan melakukan penguatan pada pencegahan kebakaran, bukan hanya penanganan kebakaran hutan dan lahan.

“KLHK banyak belajar dari 2015 dengan kebakaran sebegitu hebatnya dengan kondisi iklim yang sangat ekstrim. Kebakaran di Indonesia itu 99% akibat ulah manusia. Maka kita berpikir, pencegahannya yang harus diperkuat. Jika sebelumnya kita stressing di pemadaman, maka setelah itu kita memperkuat upaya pencegahannya.” Kata Ferdi kepada Peneliti dari Yayasan Umar Kayam.

Sejak tahun 2016, Direktorat Jenderal Pengendalian Perubahan Iklim Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan melalui Balai Pengendalian Perubahan Iklim dan Kebakaran Hutan (Balai PPI dan Karhutla) Wilayah Sumatera melakukan pendekatan kepada masyarakat untuk memperkuat upaya pencegahan kebakaran hutan. Hal serupa juga dilakukan oleh BPPIKHL di wilayah lain di Indonesia.

“Presiden meminta pencegahan kebakaran hutan dan lahan dimulai dari deteksi dini. Sentuhannya di desa, di masyarakat, lokusnya adalah desa. Maka pada tahun 2016 kami membuat terobosan melalui patroli terpadu yang juga melibatkan masyarakat di lokasi yang sering terjadi kebakaran hutan” Ujar Ferdi lebih lanjut.

Ferdi juga menjelaskan bahwa pada tahun 2016, 2017, dan 2018 iklim di Indonesia lebih basah sehingga cukup tertolong, angka kebakaran hutan dan lahan mengecil dan dapat diatasi. Namun, mendekati tahun 2019 ada fenomena El-Nino yang berdampak pada terjadinya kekeringan di musim kemarau seperti yang terjadi pada tahun 2015 lalu. “Pada tahun 2019 kita lebih siap, ada teknologi deteksi dini yang membantu kita lebih cepat tangani Karhutla” Ujar Ferdi.

Kunci keberhasilan pencegahan kebakaran hutan dan lahan adalah di masyarakat. KLHK memfokuskan pada upaya pencegahan itu. “Kami mendidik Manggala Agni bukan 100% pemadaman, Tim Manggala Agni harus memiliki kapasitas mengindentifikjasi potensi masyarakat” Kata Ferdi menjelaskan cara pencegahan kebakaran hutan dan lahan.

Maka Tim Manggala Agni, seperti Neneng juga melakukan sosialisasi, bersama Masyarakat Peduli Api mereka saling mengingatkan antar masyarakat, menggalakkan siskamling (sistem keamanan lingkungan), dan melakukan pendekatan pada setiap desa yang “langganan” menjadi lokasi kebakaran hutan dan lahan. Tim Manggala Agni juga mengajak masyarakat melakukan budidaya madu hutan di Kabupaten Siak. “Ya untuk menambah penghasilan mereka” Ujar Neneng.

Ferdi juga memberikan penjelasan tentang pendekatan kepada masyarakat yang berbeda antara satu desa dengan desa lainnya. “Tapi kita harus bener-bener tahu apa yang harus diubah. Jangan-jangan masyarakat sudah bijaksana?. Kita harus tahu dulu antara masyarakat adat yang melakukan sistem pembakaran lahan dengan terkendali, dengan masyarakat yang mengaku dirinya masyarakat adat tapi melakukan pembakaran lahan dengan serampangan. Potensi dan kearifan lokal yang ada di masyarakat, yang harus kita pahami dan kita dekati” Ujar Ferdi menjelaskan pada Peneliti dari Yayasan Umar Kayam.

Menurut Ferdi, ada beberapa contoh baik tentang kearifan masyarakat adat. Misalnya masyarakat rimba, mereka sangat tahu bahwa keseimbangan itu sumber kehidupan mereka, jika alam tak dikeloal dnegan baik akan timbul sesuatu, bencana.

Sekarang, Tim Manggala Agni bersama Masyarakat Peduli Api (MPA) sebagai pendukung penting dalam pencegahan dan penanganan kebakaran hutan dan lahan, fokus pada upaya pencegahan kebakaran hutan dan lahan. Mereka mensosialisasikan pada masyarakat bahwa kebakaran hutan dan lahan itu masalah buat diri meka sendiri, juga buat masa depan anak-anak mereka. “Kalau kita tak bisa menjaga alam, maka alam akan membalasnya.” Ujar Ferdi di akhir wawancara.

Merujuk pada data dalam sistem SiPongi Kathutla Monitoring Sistem yang dikembangkan oleh KLHK, luas kebakaran hutan dan lahan di Provinsi Riau sejak tahun 2015-2019 mengalami perubahan signifikan. Berikut ini grafik rekapitulasi luas kebakaran yang diambil dari https//: sipongi.menlhk.go.id:

Kini, kebakaran hutan dan lahan di Provinsi Riau telah berkurang hingga 50%. Demikian juga yang terjadi pada Provinsi lain di Indonesia, tingkat kebakaran hutan dan lahan berkurang secara signifikan.

Terimakasih untuk Neneng, perempuan tangguh anggota Manggala Agni dari Kabupaten Siak, Riau, Tim Manggala Agni, Masyarakat Peduli Api, dan Satuan Tugas (Satgas) Karhutla yang berjibaku menaklukkan api. Kami titipkan hutan dan lahan agar terhindar dari kebakaran, untuk kehidupan yang lebih baik. (Budhi Hermanto)

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *