Konferensi Pertunjukan dan Teater Nasional 2020

Konferensi Pertunjukan dan Teater Nasional telah berlangsung pada tanggal 10,17,23,24 September 2020 dalam format daring. Konferensi ini adalah ruang pertemuan antara akademisi, periset, dan praktisi pertunjukan di Indonesia, sebagai ruang pertemuan konferensi ini ditujukan untuk menjadi ruang terbuka yang sehat dan aman untuk membicarakan dan merefleksikan perkembangan pertunjukan di Indonesia. Selama empat hari konferensi, yang terdiri dari satu keynote speaker, lima panel diskusi, empat pertunjukan, dan satu catatan penutup, menghadirkan 18 panelis dan dua pembicara kunci, serta empat kelompok penampil, menarik perhatian publik seni dari Aceh sampai dengan Maluku.

 

Konferensi PTN mulanya dirancang sejak akhir tahun 2019 dalam format luring, perjalanan menuju konferensi sudah dimulai sejak pertengahan tahun 2019 dengan menghadirkan lokakarya mengenai teori pertunjukan oleh Joned Suryatmoko di Sekolah Pascasarjana ISI Yogyakarta. Kemudian pada bulan September 2019 diadakan diskusi terbuka tentang praktik pertunjukan di Yogyakarta yang menghadirkan pembicara Rendra Bagus Pamungkas dan Lephen Purwanto di Ruang Multimedia Sekolah Pascasarjana ISI Yogyakarta. Pada diskusi ini diumumkan pula panggilan terbuka untuk beasiswa penelitian Konferensi PTN untuk penelitian yang hendak dipresentasikan di konferensi.  Panggilan terbuka ini mendapat sambutan yang baik, sejumlah proposal penelitian masuk ke kami, dan kami dibantu oleh Helly Minarti menyeleksi sejumlah proposal penelitian tersebut memutuskan untuk memilih dua peraih beasiswa yaitu; Wendy HS (ISI Padangpanjang) dan Arung Wardhana (ISI Surakarta). Pandemi COVID-19 yang mulai merebak di Indonesia sejak bulan Maret 2020, membuat rencana penyelenggaraan konferensi dipikirkan ulang. Tim Konferensi memutuskan untuk mengubah format Konferensi menjadi berbentuk daring yang dirasa paling aman dari aspek kesehatan, serta paling mungkin dilakukan dengan regulasi pembatasan perjalanan dan larangan mengumpulkan orang.

 

Format daring tidak sekadar menjadi opsi cadangan agar konferensi tetap terselenggara, melainkan juga pilihan strategis untuk menunaikan cita-cita Konferensi PTN untuk mendistribusikan pengetahuan. Pilihan format daring memberikan kesempatan yang lebih banyak pada para panelis, penampil, dan peserta dari luar Jawa, misalnya kawan-kawan di Indonesia Timur atau di Sumatera untuk bisa hadir dan terlibat dalam percakapan yang berlangsung di konferensi. Dalam format luring, barangkali kesempatan bagi kawan-kawan di luar Jawa lebih terbatas untuk dapat mengikuti konferensi ini. Hal ini kami tempatkan sebagai berkah terselubung yang diharapkan hasilnya dapat disemai beberapa tahun lagi.

 

Secara tematik Konferensi PTN 2020 memberikan tawaran atas cara pandang kita dalam melihat teater atau melihat pertunjukan. Dalam keynote speaker yang menghadirkan Dr. Lono Simatupang (Pengkajian Seni Pertunjukan dan Seni Rupa, Sekolah Pascasarjana UGM) dan Ugoran Prasad (Kandidat Phd Theatre Studies, City University of New York), membicarakan perkembangan kajian pertunjukan dan kajian teater di Indonesia sejak tahun 1990-an hingga yang terkini, sembari merefleksikan kelokan-kelokan dalam sejarah seni Indonesia yang lumayan panjang. Dr. Lono, antropolog yang banyak mengkaji seni pertunjukan, menunjukkan bagaimana perkembangan disiplin-disiplin ilmu sosial dan ilmu budaya mempengaruhi bagaimana kajian tentang teater dan pertunjukan berkembang. Ugoran yang memandu pembicaraan dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan, dan merunut jawaban-jawaban Dr. Lono menegaskan arah dan kelokan dalam sejarah seni di Indonesia, misalnya bagaimana pemisahan antara teater modern dan teater tradisional sudah tidak relevan bagi praktisi seni pertunjukan, karena kategorisasi tersebut muncul dari bias pengetahuan teater modern Barat.

 

Perbincangan yang mengasyikkan antara Dr. Lono dan Ugo, memberikan gambaran atas semangat konferensi yang menggoda pengerasan-pengerasan disiplin yang merupakan buntut dari semangat pengetahuan modern Barat dalam membuat kompartemen-kompartemen disiplin. Kajian pertunjukan, misalnya adalah hasil dari pencairan-pencairan kompartemen disiplin dalam fakultas sosial dan ilmu budaya, hal ini dapat dimulai dari sikap kritis para antropolog pada epistemology ilmu antropologi modern. Kritik tersebut memunculkan konsep kebudayaan sebagai kumpulan peristiwa yang dapat diuraikan elemen-elemennya, mirip dengan peristiwa panggung disusun elemen-elemennya. Konsep ini menuntun banyak perubahan dalam kajian budaya, yang membuka kesempatan pada elemen-elemen kajian pertunjukan untuk lahir dari perkembangan tersebut.

 

Pada dunia pertunjukan, eksperimentasi untuk menentang konvensi-konvensi pertunjukan di Barat dapat diklaim sebagai hasil dari pertemuan antara dunia Barat dan dunia Timur lewat kolonialisme. Hal tersebut dapat dilacak dari terpukaunya Antoin Artaud pada para penari Bali di Paris Colonial Expo, dan pengaruhnya pada teater Eropa pada masa selanjutnya. Di sisi lain, kolonialisme menghadirkan pertunjukan seperti kethoprak atau ludruk yang merupakan turunan dari Komidie Stamboel yang membawa bentuk panggung proscenium yang “lahir” di Eropa ke konteks lokal. Kajian pertunjukan dan kajian teater mempunyai peluang untuk dapat menjadi kacamata dalam melihat kebudayaan, serta melakukan refleksi kritis pada karya-karya pertunjukan. Kajian pertunjukan dan kajian teater tidak hanya dapat membentuk ekosistem pertunjukan yang baik dan kuat, namun juga dapat dimanfaatkan menjadi bagian dalam pengembangan kebudayaan Indonesia masa depan.

 

Salah satu sesi yang mencuri perhatian adalah Sesi Lokalitas yang menghadirkan panelis Ferdian Hasibuan, Khotibhul Umam, dan Gladhys Elliona yang memberikan gambaran teater di Purwokerto, Semarang, dan Jakarta. Sesi ini memberikan tarikan menarik atas perkembangan teater di kota-kota yang tidak pernah dibicarakan dalam peta teater Indonesia seperti Purwokerto atau Semarang. Gladhys memberikan gambaran teater di Jakarta bukan dari kelompok-kelompok teater yang sudah mapan, melainkan dari kelompok teater yang masih muda dan berjuang untuk mendapatkan tempat. Presentasi Ferdian menunjukkan geliat teater di Purwokerto, dinamika antar-generasi, serta perbenturan tatapan estetika antara “identitas Purwokerto” dan “bukan Purwokerto.” Hal ini tentu saja menarik, karena barangkali kita lebih sering melihat benturan ini terjadi di Yogyakarta atau Solo, tapi barangkali tidak pernah membayangkannya terjadi di Purwokerto atau Banyumas, misalnya. Presentasi Ferdian memotret bagaimana otonomi daerah menghasilkan dorongan pengerasan identitas lokal dan mempengaruhi dinamika pertunjukan di daerah. Tema ini sangat menarik untuk diteliti lebih jauh dan diluaskan ke daerah-daerah lain, misalnya untuk membuat refleksi dan catatan kritis bagaimana pengerasan identitas ini menghasilkan bermacam-macam proyek seni di tingkat daerah.

 

Catatan Khothibul Imam dari Semarang mengenai zine yang mengarsipkan catatan-catatan tentang pertunjukan teater di Semarang adalah setetes air segar yang memberikan gambaran bagaimana ekosistem teater di kota industri yang tidak pernah dianggap sebagai barometer pertunjukan di Indonesia pernah begitu maju. Zine yang digarap oleh para mahasiswa, secara amatir dan sukarela tersebut mendokumentasikan dunia teater di Semarang dalam kurun waktu beberapa tahun di awal hingga pertengahan dekade 2000-an. Khothibul dalam presentasinya menunjukkan bagaimana zine memberikan dinamika dalam kehidupan berkesenian di Semarang, lewat kritik-kritiknya pada program Dewan Kesenian. Sesi Lokalitas adalah format yang akan dipertahankan pada penyelenggaraan konferensi yang berikutnya dan apabila ada kesempatan untuk memperluas sesi ini dengan mengundang lebih banyak panelis dari berbagai daerah tentu akan menjadi lebih seru dan menarik.

 

Selain memberikan presentasi dalam bentuk konvensional (bicara dan menggunakan slides), Konferensi PTN juga memberikan kesempatan bagi para panelis untuk mempresentasikan pertunjukan. Pada tahun ini Konferensi PTN menghadirkan bermacam-macam pertunjukan, dari mulai pertunjukan eksperimental hingga dokumentasi pertunjukan konvensional. Lewat format daring, konferensi dapat menampilkan karya-karya seniman dari Ambon, Lampung, dan Bandung. Salah satu presentasi yang menarik adalah presentasi Workshop Sambal oleh Elia Nurvista dan Bakudapan Food Studies, yang tampil bersama peserta Noviati Maulida dari Bireuen, Aceh dan Kikan dari Maumere, NTT.

 

Dalam presentasi workshop Sambal yang ditayangkan secara langsung lewat platform zoom, para Elia dan Montyas bersama dengan para penampil lain membuat sambal, mendiskusikan praktik mengulek sambal sebagai suatu pengetahuan yang karena setiap hari kita lakukan menjadi sesuatu yang lumrah, sesuatu yang praktis saja sehingga tidak dianggap sebagai suatu pengetahuan. Lewat workshop ini para peserta diajak untuk mengulik pengetahuan tentang mengulek sambal sembari berbincang, dan lewat tayangan video masing-masing nampak ada ragam variasi pengetahuan tentang sambal yang sangat kaya di Indonesia. Sesi ini menarik, karena memberikan tawaran baru atas apa itu pertunjukan, karena ini seperti kita menonton para penjual dan pembeli di pasar sebagai satu pertunjukan, atau menonton dua tim bertarung di lapangan sepakbola. Dalam pertunjukan ini lapis-lapis penampil dan penonton sengaja ditambah kerumitannya, untuk melihat bagaimana efeknya pada pertunjukan itu sendiri. Ada banyak catatan menarik yang meyertai workshop Sambal oleh Elia Nurvista dan Bakudapan Food Studies, yang dapat menjadi titik berangkat untuk menjadi pijakan tawaran pertunjukan pada Konferensi PTN tahun berikutnya.

 

Secara umum Konferensi PTN tahun ini dapat menjadi titik mula dalam pemetaan praktisi dan akademisi pertunjukan dan teater di Indonesia. Kebanyakan para peserta yang registrasi adalah para praktisi, ada banyak minat dari akademisi terutama dari disiplin ilmu non-kesenian untuk hadir, bahkan ada yang mewajibkan kelasnya untuk mengikut sesi-sesi dalam konferensi. Sayangnya, minat dari akademisi dari disiplin seni masih kurang, ke depannya Konferensi PTN akan mengusahakan agar minat para akademisi di bidang seni dapat lebih meningkat lagi.

 

Mengulangi uraian Brigitta Isabella dalam Catatan Penutup, pada Konferensi PTN kali ini umumnya mempresentasikan bermacam-macam masalah dalam teater Indonesia, ia menggunakan istilah “cry for help” – teater semacam terbelenggu dalam berbagai masalah dan tidak dapat melihat potensi-potensi di dalam dirinya untuk berkembang. Sebagai penyelenggaraan pertama, arah konferensi sebagai ruang aman untuk “berbagi masalah” sudah dapat kami petakan sebelumnya, menariknya justru dari rangkuman permasalahan teater dari Konferensi PTN kali ini justru mendapatkan bahan pemetaan yang konkrit dalam melihat teater dan pertunjukan Indonesia hari ini. Barangkali karena memang jarang ada forum yang menyediakan ruang aman untuk membicarakan permasalahan-permasalahan teater Indonesia, sehingga Konferensi PTN edisi pertama ini langsung menampungnya.

 

Konferensi PTN sangat beruntung pada penyelenggaraan pertama mendapat dukungan dari Sekolah Pascasarajana ISI Yogyakarta, Festival Kesenian Yogyakarta 2020, Indonesia Dramatic Reading Festival, Komunitas Sakatoya, dan terutama pada Yayasan Umar Kayam yang merupakan pendukung utama Konferensi PTN sehingga dapat berlangsung dengan baik, meskipun masih banyak kekurangan di sana sini yang mesti harus kami perbaiki pada penyelenggaraan berikutnya.

 

 Terima kasih! Sampai jumpa di Konferensi PTN 2021!!

 Yogyakarta, 12 November 2020

Muhammad AB

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *